Pemerintah Lakukan Standar Ganda Dalam Masalah Hoax dan Ujaran Kebencian

Pemerintah Lakukan Standar Ganda Dalam Masalah Hoax dan Ujaran Kebencian

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Fadli Zon mengkritik Presiden Joko Widodo yang mengundang 70 buzzer atau pegiat media umum ke Istana Negara, Jakarta, pada 23 Agustus 2017 lalu. dikutip dari Aktual.com


Pertemuan yang diadakan sehari setelah terungkapnya sindikat penyebar hoax, Saracen, dinilai Fadli Zon sebagai bentuk komunikasi politik yang buruk untuk seorang Presiden.

Jokowi bersama para buzzer media umum di istana

Terlebih, ini dilakukan di tengah merebaknya wabah informasi palsu, ujaran kebencian dan eksploitasi isu suku, agama, ras dan Antargolongan di kalangan pengguna media sosial.

“Mengumpulkan para buzzer pendukung pemerintah yaitu bentuk komunikasi politik yang bermasalah dari seorang kepala negara,” kritik Fadli Zon dalam keterangan tertulis yang dikutip mediaoposisi.com dari situs info Aktual, Rabu (30/8).

Sebagaimana diketahui, Presiden Jokowi memang telah beberapa kali mengundang buzzer ke Istana Negara. Tahun ini saja, sudah dua kali pihak Istana mengadakan pertemuan dengan puluhan buzzer, yaitu pada 22 Juni dan 24 Agustus silam.

Kondisi ini dinilai Fadli Zon hanya akan memberi kesan bahwa pemerintah telah melaksanakan standar ganda dalam duduk perkara hoax dan ujaran kebencian.

“Sebab, bila menyangkut para ‘buzzer istana’, tidak pernah ada tindakan hukum terhadap mereka, meskipun misalnya cuitan atau posting mereka di media umum kerap kali meresahkan dan melahirkan perselisihan di tengah masyarakat,” kata pria yang juga menjadi dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia ini.

Terlebih, lanjutnya, pertemuan ini justru diadakan di dikala masyarakat mengharapkan kepolisian untuk mengusut tuntas kasus Saracen maupun industri hoax secara umum.

Karenanya, Fadli Zon pun meminta biar Presiden tidak memamerkan buzzer yang dimilikinya kepada publik. “Kegiatan semacam itu sebaiknya disudahi, alasannya yaitu hanya akan merusak wibawa negara dan kontraproduktif dengan usaha Polri yang sedang membongkar berandal penyebar hoax dan kebencian di media sosial.” pungkasnya.

Standar Ganda Pemerintah

Beberapa tahun lalu, Jasmev terbentuk dengan gerakan masif membuat isu dan fitnah untuk menjatuhkan lawan sembari menaikkan elektabilitas buat yang didukung, dikala itu mereka mendukung Jokowi dan Ahok untuk Pilkada DKI Jakarta 2012.

Hal ini sudah diketahui publik, jadi bila dikala ini risikonya membuat Rakyat saling sikut sendiri alasannya yaitu sifat pendukung yang memang berbayar. Mereka punya kewajiban untuk terus melaksanakan serangan dan counter balik terhadap kritikan. Sosial Media tidak sehat alasannya yaitu ulah sebagian orang dan berkepentingan atas keserakahan kekuasaan.

Jasmev tim buzzer Jokowi

Kenyataan bahwa Buzzer Ahok dan Jokowi pada waktu itu "Panen Emas" tidak bisa terelakkan dengan begitu "Subur" nya kehidupan mereka sekarang, dibanding dikala pertama kemunculan mereka. Yup, betapa kerja sebagai Buzzer Ahok sangat menggiurkan dengan untung segudang

Sebenarnya, ini kejahatan Politik. Dengan membayar buzzer-buzzer bahkan sampai mereka tetap berkuasa, setiap buzzer melaksanakan fitnah maka akan terlindungi oleh penguasa. Sementara, untuk pengkritik salah sedikit maka Polisi pribadi menangkapnya atas ujaran kebencian dengan dalih melanggar UU ITE.

Team Buzzer 

Miris sebenarnya. Ketika kita butuh kontrol serta sikap kritis mengoreksi yang baik buat penguasa dan pejabat negara. Tetapi rezim penguasa memiliki "pasukan" yang siap menghadang. Bahkan tak segan untuk menghancurkan huruf si Pengkritik. Ad Hominen, Kill the Messenger, tak segan mereka lakukan. Saat pengkritik terpancing untuk melawan, sedikit terpeleset saja akan dihadapkan pada Hukum. Hukum yang tidak berkeadilan!

Akhirnya, pengkriti berhadapan dengan "Pasukan" dengan kesombongan yang luar biasa! Pengkritik serasa lemah alasannya yaitu Penguasa siap memberi "Surat Sakti" pemanggilan. Pengkritik terteror oleh penguasa, yang dipilih rakyat. Dan bukan tidak mungkin negera berubah menjadi menjadi pembuat teror dan rakyatnya akan ketakutan alasannya yaitu berada dalam ancama.

Lihat saja Perppu Ormas yang sontak dikeluarkan dan menjadi pengakuan untuk melaksanakan pemburan terhadap ormas islam yang selama ini keritis terhadap penguasa yang bertindak dzalim. Korbanya yaitu ormas HTI yang tanpa diberi ruang pengadilan pribadi digebuk di bubarkan dan terus dipersekusi.

Dengan dalih anti Pancasila dan NKRI. lalu apkah menjual aset-aset negara kepada absurd itu tindakan yang Pancasilais serta paling NKRI. Rasanya kita harus berpikir menggunakan logika sehat bukan logika duit.

Maka, dunia Buzzer harusnya dihentikan setelah Penguasa yang di dukungnya berkuasa. Kewajiban dan Hak Rakyatlah untuk mengontrol, bahkan sekalipun dengan cara yang salah. Rakyat tidak punya kuasa apa-apa selain berteriak dan memaki. Sementara penguasa punya banyak kakuatan untuk melaksanakan apapun. Selayaknya penguasa mendengar keluhan apalagi sudah berupa kemarahan rakyat.

Ada yang salah dengan negeri ini. Dan kita masih betah untuk berada dalam kesalahan-kesalahan yang risikonya akan merugikan kita sendiri. Justru penguasa telah membuat rakyat sengsara dengan menyerahkan sumber daya alam dikelola absurd dan kaum kapitalis. Sementara rakyat dibiarkan dalam hidup yang sangat tertekan dengan biaya hidup yang semakin mahal. Bukankah ini Hoax bila pemerintah mengklaim selalu mengatakan telah menurunkan angka kemiskinan sementara fakta di lapangan berkata lain.


Mengutip dari pernyataan Rocky Gerung beberapa waktu yang lalu:

“Kita mencium ada semacam kepanikan di dalam rezim ini. Orang panik biasanya ingin cari pegangan apa saja. Kayak orang hanyut, ia mau raih apa saja. Entah itu kaleng bekas hanyut, batang pohon. Makara kepanikan menyampaikan ada krisis, sebenarnya.”

“Pembuat hoax terbaik yaitu penguasa. Karena mereka memiliki seluruh peralatan untuk berbohong. Intelijen ia punya, data statistik ia punya, media ia punya. Orang marah. Tapi itu faktanya. Hanya pemerintah yang bisa berbohong secara sempurna. Saya tidak ingin ia berbohong tapi potentially ia bisa lakukan itu,” Rocky Gerung []

Sumber : oborislam.com

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pemerintah Lakukan Standar Ganda Dalam Masalah Hoax dan Ujaran Kebencian"

Posting Komentar